 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | TASARO |
Yang saya suka dari novel ini adalah dialog tokoh-tokohnya yang terasa hidup dan nggak biasa. dialog dalam novel ini terasa seperti dialog dalam film-film barat. banyak gaya pengungkapan yang indah dan tidak langsung. membaca novel ini saya terkagum-kagum dibuatnya. saya banyak belajar bagaimana membuat dialog yang tidak kaku. selain itu, banyak pula ide-ide segar yang bersumber dari pemikiran penulisnya. misalnya saja tentang topik "homoseksual' yang dibicarakandalam novel ini. ada wacana baru yang kayaknya benar-benar segar dari penulisnya.
Gaya penceritaan yang dibagi pertokoh terus terang membuat saya agak lamban menemukan apa sebenarnya konfllik utama dalam novel ini. bahkan setelah beberapa bab seolah-olah cerita masih mengalir sendiri-sendiri (seperti kata mas jonru) tanpa ada benang merah yang jelas. baru di pertangahan kita siduguhkan pada masalah "kamera digital" yang menjadi sumber masalah utama.
satu lagi, persahabatan 5 sekawan dalam novel ini -- yang diceritakan dulunya begitu erat-- agak kurang tergambar "eratnya". sebab dalam bebrapa bab diceritakan bahwa antara satu orang dengan yang lain ada yang kurang begitu dekat, bahkan kurang begitu mengenal wataknya. jadi "erat" seperti apa hubungan tersebut sehingga setelah lima tahun kemudian mereka masih saling mengingat dan hanya oleh keperluan kecil mereka yang telah berjauhan bisa berkumpul kembali pada suatu malam.
Selanjutnya, penulis kayaknya masih malu-malu sekali menyisipkan nilai islami. memang mungkin penulisnya bermaksud agar tokoh-tokoh ceritanya wajar dan tidak terkesan dipaksakan alim, mentang-mentang novel islami, seperti pada beberapa novel yang penah saya baca. tapi menurut saya, ada satu tokoh yakni si Maru, yang diceritakan pernah aktif di organisasi keislaman kampus, bahkan pernah bergabung dalam tim nasyid, tak bisa mempertahankan ideologinya saat bergaul dengan teman-teman wanita. misalnya saat maru dan bhumi ngobrol di waroeng gaul dan chandra tiba, mereka pun bersalaman, "tanpa pelukan" tambah penulisnya. apa maksud penulis menyebut "tanpa pelukan" di sini. mungkinkah untuk mengesankan pergaulan mereka masih "agak" syar'i meski masih bersalaman akrab? dimana tokoh seperti maruta (aktifis dakwah kampus) yang umumnya teguh memegang prinsip? tidak beranikah penulisnya bersikap di sini? menurut hemat saya hal ini bisa menjadi ganjalan bagi pembaca.
terlepas dari itu semua, novel ini memberi saya banyak inspirasi. salut berat buat taufik saptoto rohadi (tasaro) yang menulis novelnya -- menurut saya-- dengan sangat serius dan penuh pertimbangan.
maklum juga kalau kritik saya terasa konyol. maklum, ini menurut saya pribadi. kapasistas saya kan beda dengan kritikus satra beneran   | ga apa, tiap orang berhak beropini lho |
 | Aku juga suka banget dengan novel ini. Gaya Tasaro khas banget di sini. |
 | Gw suka buku itu, menyentuh dan penuh makna yang dapat gw petik, selamat ya buat penulisnya ^_^ |
 | ya, betul. tasaro emang jempolan. dah baca karya-karyanya yang laen? bagus juga lo |
| |
|