ulasan ...

ReviewReviewReviewReviewBanyak yang Aneh dari Novel Maryamah KarpovDec 10, '08 7:19 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Andrea Hirata
Kemaren ngebet beli buku ini walaupun harganya lumayan mahal, 79 ribu. Kalo beli novel lain kan bisa dapat dua :-)
Saya sudah menyelesaikan membaca buku ini, dan rasanya tak sabar pengen komentar. Habis banyak yang ingin saya bicarakan.

- PERTAMA, SOAL HARGA.
He he.., menurut perkiraanku, buku ini mahal bukan hanya lantaran tebalnya yang sampai 504 halaman dengan kertas bagus (kayak kertas novel2-novel barat yang agak kusam tapi ringan itu). Kupikir ni novel benar-benar memanfaatkan peluang. Secara, ini adalah buku terakhir dan udah ditunggu-tunggu pembaca. Jadi meski dimahal-mahalin tetap aja orang mau beli. Harganya dua kali lipat harga buku Laskar Pelangi. Wow, bayangin tuh keuntungan penerbitnya. Kalau penulis sih paling banter Cuma 15 persen doang.

- KEDUA, SOAL KORELASI ISI DENGAN JUDUL MARYAMAH KARPOV.
Ketika saya baru baca dua ratus halaman pertama buku ini, saya sudah ingin sekali berkomentar. Dua ratusan pertama yang saya baca itu, saya mulai merasa ada yang aneh dengan novel ini. Kok sudah hampir setengah buku belum juga disebut-sebut nama-nama yang menjadi judul buku ini. Mana nih si maryamah karpov? Siapa sih sebenarnya dia. Kok udah hampir setengah halaman belum dibicarakan sedikit pun? Mana nih mimpi-mimpi Lintang? Kok Lintang aja belum nongol-nongol dari tadi?

Setelah baca beberapa halaman lagi saya untuk pertama kalinya ngeh kalau Marayamah Karpov itu memang seperti yang dulu saya duga. Dia bukanlah A Ling seperti perkiraan banyak orang. Kawan tentu masih ingat buku Sang Pemimpi, di sana diceritakan bahwa Arai sempat bela-belain mecahin celengan buat bantu usaha Bi Maryamah, ibunya Nurmi yang miskin, yang sempat mau menjual biola kesayangan anaknya si Nurmi. Nah, ternyata Maryamah Karpov itu adalah dia, si bibi iubnya nurmi itu! Nama Karpov itu diambil dari salah satu istilah strategi permainan catur, dimana konon bibi Maryamah ini lihai sekali memainkannya.

Lalu apa sih pentingnya kok sampai-sampai namanya jadi judul novel ini? Well, terus terang ini yang bikin ampun saya. Jangankan punya peranan penting dalam cerita, namanya saja disebut tidak lebih banyak dari lima kali saja dalam seluruh novel setebal 504 halaman ini. Hingga selesai membaca saya jadi berpikir keras mencari-cari alasan kenapa Maryamah Karpov dipilih sebagai judul buku, jika kenyataannya dalam cerita dia sangatlah tidak penting. Tadinya saya pikir saya yang keliru tidak membaca dengan menyimak. Saya bahkan perlu mengulang kembali membaca bagian yang memuat nama Maryamah Karpov itu. Dan tetap saja, saya tidak menemukan apa-apa? Maryamah Karpov itu sama sekali bukan siapa-siapa. Cerita tentangnya tidak lebih dari dua paragrap saja.

Hal ini lebih diperparah lagi dengan gambar gadis yang sedang memainkan biola yang menjadi kover novel ini. Kalau saya tidak salah, pastilah itu gambarnya Nurmi anak Bik Maryamah Karpov yang jadi pengamen jalanan dengan bermain biola itu. Walaupun porsi kehadirannya dalam cerita sedikit lebih banyak dari Maryamah Karpov, tetap saja perannya tidak begitu penting. Jika saja karakter Nurmi tidak dimasukkan, jalan cerita novel ini tetap tidak terganggu sama sekali. Lalu atas alasan apa kok dia yang menjadi model buat kover buku?

Setelah berpikir-pikir dan sedikit menganalisa, saya menarik sedikit hipotesis mengapa hal ini sampai terjadi. Menurut saya,desain kover Maryamah Karpov sudah terlanjur diperlihatkan kepada publik, sementara bukunya sendiri masih dalam proses revisi, atau mungkin perombakan besar-besaran dari script yang direncanakan. Mungkin saja setelah tiga seri pertama tetralogi LP mendapat banyak masukan dari pembaca dan kritikus, Andrea Hirata bermaksud merevisi sana sini naskah Maryamah Karpov yang sudah di tangan penerbit menunggu cetak. Itu juga alasan mengapa Maryamah Karpov agak telat meluncur ke pasaran, selain menunggu moment yang pas.

Seingat saya, cover Maryamah Karpov sudah diperlihatkan sejak buku pertama Laskar Pelangi terbit. Dan sekali lagi kalau saya tidak salah, saat itu tidak terdapat sub judul “Mimpi-mimpi Lintang” seperti pada kover yang beredar sekarang. Sub judul itu pastilah ditambah belakangan. Mungkin saja sempat terpikir untuk merubah judul dan kover, tapi apa daya orang sudah pada mafhum kalau buku keempat judulnya Maryamah Karpov dan kovernya adalah seperti yang diperkenalkan pada semua seri LP sebelumnya. I bet, entah pada cetakan ke berapa, kover buku ini suatu saat nanti akan dirubah oleh penerbitnya.

Pelajaran moral yang bisa dipetik dari sini adalah: Jangan menentukan judul dan Mempublikasikan Kover Buku terlebih dahulu sebelum benar-benar selesai menulis bukunya.

Soal additional title “Mimpi-mimpi Lintang”, baru di lebih dari setengah buku ketahuan apa maksudnya. Saya gak mau terlalu jadi spoiler di sini, jadi untuk mengetahuinya, baca sendiri aja ya.

- KETIGA SOAL SATU PERTANYAAN UTAMA
Berbeda sekali dengan novel-novel lain yang jalan ceritanya mengalir menuju satu konflik sejak dari awal cerita, buku ini seolah-olah merupakan kumpulan kisah pendek (atau cerpen) dengan tokoh-tokoh yang sama. Mirip cerita serial, dimana setiap mozaik kisah-kisahnya memiliki konflik dan penyelesaiannya sendiri-sendiri dan tidak saling berkaitan.

Novel-novel Andrea Hirata umumnya ini tidak memiliki Satu Pertanyaan Utama yang hendak dijawab sebagaimana selalu ada dalam novel-novel lain umumnya. Maksudnya adalah konflik utama yang akan diselesaikan diakhir cerita. Misalkan saja dalam trilogi The Lord of The Ring, meski tebalnya sampai 1500 halaman lebih, tetap saja semua cerita mengarah untuk menjawab satu pertanyaan: mampukah Frodo memusnahkan cincin Sauron?

Dalam Novel-novel Andrea Hirata biasanya cerita-cerita dibagi dalam bab-bab tersendiri (mozaik), namun cerita-cerita tersebut kadang-kadang tidak saling berkaitan dan tidak menuju satu arah untuk menjawab suatu pertanyaan utama. Jadinya kita seolah-olah membaca kumpulan cerita pendek. Kadang saya bertanya, apa sih pentingnya menceritakan soal ini, ketika hingga akhir cerita Saya tidak menemukan alasan mengapa bagian itu penting diceritakan.

Saya menganggap hal itu sebagai kelemahan, walaupun banyak juga yang justru menganggapnya kelebihan. Entah karena memang menganalisis dengan jujur, atau karena sudah terjangkit penyakit gila nomor tiga puluh tujuh: kelewat memuja seorang penulis, sehingga “taik ayam” pun yang ia tulis, tetap dianggap luar biasa. Sama seperti A Kiong memuja Mahar. (He he…,sori om Andrea, kutambahin jenis penyakit gilanya.)

Oleh karena tidak adanya pertanyaan utama itu, maka ketika diadaptasi ke dalam film, penulis naskah sedikit kesulitan. Tidak ada konflik utama dalam cerita. Tak heran, dalam versi filmnya, laskar pelangi ditambahi tokoh-tokoh additional dan konflik-konflik ekstra yang tidak terdapat dalam novel. Tokoh-tokoh itu sebut saja, Si Bakri, si Tora Sudiro itu, terus Bapak-bapak yang sering ngasih beras buat pak Harfan dan bu Muslimah. Konflik tambahan katakanlah ketika Pak Harfan Mati, dan bahwasanya sekolah laskar pelangi Cuma memiliki 10 murid itu saja (padahal dalam bukunya Andrea menceritakan bahwa dia punya kakak kelas). Hal itu yang tidak sesuai dengan novelnya. Semua itu dilakukan demi membuat cerita bisa mengalir menuju satu konflik utama.
Alhasil, menurutku tetap saja film laskar pelangi menjadi lemah dalam plot. Cerita terasa melompat-lompat gak jelas kemana arahnya. Bahkan ketika film selesai, bagi yang tidak membaca novelnya, akan merasa sedikit mengganjal. Apa sih inti film barusan?

Dalam Maryamah Karpov, cerita diawali dengan mozaik-mozaik seputar ujian thesis Ikal, tentang kebiasaan ayahnya, tentang kepulangannya dari Sorbone ke Belitong, tentang tingkah aneh Bang Zaitun sang seniman nyentrik, tentang dokter gigi masuk kampung, dan sebagainya. Kesemua cerita itu kelihatan remeh temeh, diselingi adegan-adegan komedi konyol ala Sitkom di Tivi-tivi sekarang. Semua cerita mengalir pada jalannya masing-masing dan tidak saling bersinggungan.

Baru pada pertengahan buku, tepatnya pada Mozaik ke 33, cerita mulai mengarah pada satu tujuan utama, yaitu usaha Ikal untuk membuat menemukan A Ling. Berawal dari ditemukannya mayat beberapa orang dengan tato kupu-kupu, persis tato yang dimiliki A Ling. Ikal kemudian bertekad untuk berlayar mengarungi selat Karimata untuk mencari A Ling. Ia kemudian bekerja untuk mencari dana, namun hasilnya tak pernah cukup untuk menyewa apalagi membeli perahu. Akhirnya Ikal bertekad membuat perahunya sendiri.

Hingga mozaik 66, cerita terus mengalir menuju satu plot mainstream, yakni usaha Ikal untuk menemukan A Ling dengan berlayar mengarungi selat Karimata dan mendapatkan berbagai rintangan. Pada sekitar 220-an halaman ini saya baru merasa sedang membaca Novel “sungguhan”. Begitu mengalir dan membuat penasaran. Ceritanya fokus. Tidak ada hal tidak penting yang diceritakan. Tidak ada pengisahan bagian-bagian yang tidak berhubungan dengan cerita utama. Sayangnya di akhir cerita, suspend yang begitu kuat dibangun langsung anjlok lagi di bagian-bagian akhir novel ini.

KEEMPAT: TENTANG PLOT YANG ANTI KLIMAKS
Aneh Bin ajaib. Entah untuk alasan apa, Andrea begitu ngotot ingin menceritakan tentang peristiwa pencabutan giginya oleh dokter Diaz di bagian akhir cerita. Sayang-sangat sayang rasanya. Setelah cerita dipenuhi nuansa heroik dan menegangkan mengenai perjuangan Ikal mengarungi samudera, bertemu dengan tokoh-tokoh seram dunia hitam, para Lanun (bajak laut), dukun-dukun jahat, juga Tuk Bayan Tula (masih ingat kan?), di akhir cerita tone langsung berubah drastis. Anti klimaks ketika cerita malah kembali pada perihal pencabutan gigi si Ikal oleh Dokter Diaz.

Aduh…, saya sampai lemes. Kenapa sih cerita gak langsung loncat aja pada mozaik 72, yaitu tentang hubungan Ikal dengan A Ling setelah kembali ke Belitong. Emosi yang tadinya terasa meledak-ledak mengikuti alur cerita, tiba-tiba jadi keok, luluh kayak cokelat dipanasin. Sayang banget deh! Kenapa sih bagian pencabutan gigi itu begitu penting diceritakan? Makan halaman banyak lagi. Kenapa tidak di awal-awal tadi saja sekalian ketika tone cerita masih “warming up”. Benar-benar kuciwa diri ini…
Rasanya seolah-olah begini: setelah terbawa suasana heroik dan menegangkan dalam film “Pirates of Carribean”, eh.. tahu-tahu di ujung cerita muncul sitkom “Afdel dan Temon”, ceritanya Temon yang trauma gak mau ke dokter gigi tapi dipaksa terus. Ancur … ancur…

KELIMA: TENTANG “IT’S JUST TOO EASY”
Diceritakan dalam buku ini bahwa Tuk Bayan Tula tokoh yang sangat mahsyur dan ditakuti. Dia adalah dukun sakti yang sangat kejam. Saking seramnya, orang enggan menyebut namanya. Tuk Bayan Tula ini sama seramnya dengan tokoh serupa, si kepala Bajak Laut yang super kejam bernama Tambok. Si Tambok ini digambarkan sangat menakutkan. Ia membunuh orang seperti membunuh lalat saja. Anak buahnya para lanun malaka yang oleh Andrea dikatakan lebih sangar dan hebat dari para bajak laut jahat di Film Pirates of Carribean.

Saya pikir pertemuan Ikal, Mahar, dan kedua temannya yang ikut berlayar dengan tokoh-tokoh seram itu akan sangat menegangkan dan hebat. Tapi ternyata, semua terkesan begitu mudah. Bahkan ketika menghadapi Tuk Bayan Tula yang orang-orang yakut menyebut namanya itu, ceritanya dibuat jadi lucu kayak komedi Bajuri. Aduh, kok jadi gini sih. Juga ketika bertemu si Tambok dan anak buahnya, yang menjadi perintang utama perjuangan Ikal. Ternyata sangat gampang, dan tidak terjadi apa-apa. Ikal hanya menyerahkan sejumlah uang tebusan, selesai sudah. Tadinya saya berharap akan ada pertempuran sengit antara ikal cs + Tuk bayan tula yang sudah mendukugn mereka melawan Tambok dan para bajak laut. Tapi semua itu tidak terjadi sama sekali. Halah…


- KEENAM, TENTANG BETAPA ISTIMEWANYA BAHASA ANDREA
Yang membuat saya menyukai tulisan Andrea Hirata adalah kemampuannya mengolah kata-kata menjadi begitu indah. Itu juga yang membuat saya tetap memberi empat bintang untuk novel ini, mengesampingkan semua keanehan yang saya sebut di atas. Andrea mampu menceritakan hal-hal biasa bahkan sepele menjadi begitu enak dan menarik. Inilah kehebatan Andrea Hirata yang saya pikir menjadi keisitmewaan dalam karya-karyanya. Kalau istilah penerbitnya, Andrea memiliki "Sihir Bahasa", dan saya pikir itu benar.

Lihatlah betapa Andrea bisa menceritakan dengan sangat menarik karakter Bang Zaitun, lelaki flamboyan seniman kampung yang dalam novel ini diceritakan ganti profesi jadi sopir angkot dan kehilangan keempat istrinya. Atau ketika menggambarkan pengalaman menonton bioskop pertama sekali dengan Bapaknya yang pendiam itu.
Bahkan ketika berbicara tentang binatang sekalipun, semua jadi begitu menarik. Misalnya ketika ia menceritakan monyet-monyet yang berebut buah jambu mawar dengan bapak Ikal. Ikal begitu piawai membuat penggambaran monyet-monyet itu terasa jenaka namun satir.

Satu lagi yang membuat saya terkikik-kikik ketika Andrea bercerita betapa dia membenci ayam. berikut saya kutipkan sedikit.

Secara pribadi, aku adalah pecinta binatang, tapi aku benci nian pada ayam. Hewan itu, demi Tuhan, kurang ajar betul. Jika diusir dengan sapu masih sempat-sempatnya ia berkelat-kelit di anara kaki meja, tujuannya untuk mengumpulkan tenaga tekan dan mencuri satu momen yang pas untuk menyemprotkan kotorannya di dalam rumah, lalu ia berkeok nyaring terbang melalui jendela seolah mengejek: terimalah itu! Tuang rumah yang pelit!

Ayam, tak pernah kutahu tampil di sirkus karena hewan itu sama sekali tidak dapat menerima pendidikan. Bodoh dan berwatak keras. Betinanya adalah pencemburu buta luar biasa sekaligus pelaku kejahatan seksual incest yang tak dapat dijangkau hukum. Jantannya senang pamer, maka tak lain mereka itu kaum exibisionist. Lebih parah lagi, usai menggagahi betinanya, dipatukinya, maksudnya barangkali untuk menegaskan bahwa ia tak bermaksud mengawininya. Semua contoh keburukan ada pada ayam. Karena itu, dalam hikayat-hikayat para nabi agama mana pun, ayam tak pernah diajak-ajak. Seandainya mereka bisa menghitung, pasti mereka berjudi.

Saya terkikik-kikik membaca paragrap-paragrap seperti itu yang tersebar banyak di dalam buku. Begitu asyik membaca gaya bahasa Andrea, jadi ketika membacanya terasa mengalir. Kita jadi tidak terlalu menghiraukan alur cerita yang kelihatannya tidak runut dan cenderung "kemana-mana". Karenanya memang pas jika Andrea mengatakan bahwa bahwa dia tidak terlalu menghiraukan aturan-aturan sastra dan tetek bengeknya.

Yah, oke aja sih. Buktinya sampai sekarang tulisan Andrea laris super keras. Namun buat tulisan selanjutnya, mungkin akan ada baiknya jika Andrea sedikit mau "mengalah" dan mengikuti "aturan-aturan" sastra itu. Biar tambah sempurna. Jangan terlena Cuma gara-gara novelnya laris. Laris tidak selamanya berhungan dengan kualitas kan? Disukai orang banyak bukan berarti bagus. Junk food kan sangat populer, tapi pada kenyataannya tidak baik untuk kesehatan.

OVERALL
Saya tetap memberi empat bintang untuk Maryamah Karpov, terutama untuk gaya bertutur Andrea yang sangat bagus, eksplorasi cerita pada detil-detil pembuatan perahu dan para bajak laut selat Karimata, dan joke-joke segar dari Andrea yang menghibur (walaupun kadang-kadang agak-agak maksa dan mirip sitkom Afdel dan Temon). Meski sedikit kecewa, saya gak nyesal kok beli buku ini dan menghabiskan cukup banyak waktu untuk membacanya.


ReviewReviewReviewKetika Nyamuk BicaraMar 24, '07 2:29 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:FLP Sumbagsel
Ini buku pertamaku, dan di buku ini pula tulisanku pertama kali dimuat. Seru aja, kumpulan cerpen FLP Sumbagsel ini adalah buku yang bersejarah, bukan hanya bagiku, tapi juga bagi lima penulis lain yang berasal dari Bengkulu. Soalnya ini adalah buku debut kami, dan sampai sekarang FLP bengkulu belum buat buku lagi :-) -- masih dalam proses di penerbit.

yang paling aku suka dari kumcer ini adalah cover-nya yang enak dipandang. Penerbit Zikrul Hakim emang pintar bikin cover yang enak.

Ada 12 cerpen di dalam kumcer ini. Setengahnya adalah tulisan FLP Bengkulu. 3 lainnya dari Lampung dan Palembang. Cerpen "Ketika Nyamuk Bicara" yang jadi judul buku adalah karya Koko Nata (saat itu masih pake nama pena Konaku dan masih sebagai anggota FLP Sumsel). Selain Koko, dari Sumsel ada Muhklis Rais dan Syahda Rennu. 3 cerpen lainnya ditulis anak FLP Lampung, salah satunya adalah karya Ika Nurlia.

Dari Bengkulu sendiri, selain saya ada Mbak yayuk (Naqiyyah Fi Sabillillah), Maya safera, Novianti, Novrini, dan Elzamzami. nama yang terakhir ini tahun kemarin memenangkan peringkat ke 2 LMCPI Annida ke 7.

Cerpen-cerpen dalam kumcer remaja ini kebanyakan bertemakan kritik sosial. ide-ide yang unik disampaikan dengan enak dan mengalir. Tapi jujur saja, kebanyakan kami yang menulis di buku ini adalah penulis pemula, jadi wajar kalau tulisannya belum begitu istimewa. Tapi gimanapun, tetap saja asyik untuk dibaca.


ReviewReviewWandu, Berhentilah Menjadi Pengecut!Sep 19, '06 11:04 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:TASARO
Yang saya suka dari novel ini adalah dialog tokoh-tokohnya yang terasa hidup dan nggak biasa. dialog dalam novel ini terasa seperti dialog dalam film-film barat. banyak gaya pengungkapan yang indah dan tidak langsung. membaca novel ini saya terkagum-kagum dibuatnya. saya banyak belajar bagaimana membuat dialog yang tidak kaku.
selain itu, banyak pula ide-ide segar yang bersumber dari pemikiran penulisnya. misalnya saja tentang topik "homoseksual' yang dibicarakandalam novel ini. ada wacana baru yang kayaknya benar-benar segar dari penulisnya.

Gaya penceritaan yang dibagi pertokoh terus terang membuat saya agak lamban menemukan apa sebenarnya konfllik utama dalam novel ini. bahkan setelah beberapa bab seolah-olah cerita masih mengalir sendiri-sendiri (seperti kata mas jonru) tanpa ada benang merah yang jelas. baru di pertangahan kita siduguhkan pada masalah "kamera digital" yang menjadi sumber masalah utama.

satu lagi, persahabatan 5 sekawan dalam novel ini -- yang diceritakan dulunya begitu erat-- agak kurang tergambar "eratnya". sebab dalam bebrapa bab diceritakan bahwa antara satu orang dengan yang lain ada yang kurang begitu dekat, bahkan kurang begitu mengenal wataknya. jadi "erat" seperti apa hubungan tersebut sehingga setelah lima tahun kemudian mereka masih saling mengingat dan hanya oleh keperluan kecil mereka yang telah berjauhan bisa berkumpul kembali pada suatu malam.

Selanjutnya, penulis kayaknya masih malu-malu sekali menyisipkan nilai islami. memang mungkin penulisnya bermaksud agar tokoh-tokoh ceritanya wajar dan tidak terkesan dipaksakan alim, mentang-mentang novel islami, seperti pada beberapa novel yang penah saya baca. tapi menurut saya, ada satu tokoh yakni si Maru, yang diceritakan pernah aktif di organisasi keislaman kampus, bahkan pernah bergabung dalam tim nasyid, tak bisa mempertahankan ideologinya saat bergaul dengan teman-teman wanita. misalnya saat maru dan bhumi ngobrol di waroeng gaul dan chandra tiba, mereka pun bersalaman, "tanpa pelukan" tambah penulisnya. apa maksud penulis menyebut "tanpa pelukan" di sini. mungkinkah untuk mengesankan pergaulan mereka masih "agak" syar'i meski masih bersalaman akrab? dimana tokoh seperti maruta (aktifis dakwah kampus) yang umumnya teguh memegang prinsip? tidak beranikah penulisnya bersikap di sini? menurut hemat saya hal ini bisa menjadi ganjalan bagi pembaca.

terlepas dari itu semua, novel ini memberi saya banyak inspirasi. salut berat buat taufik saptoto rohadi (tasaro) yang menulis novelnya -- menurut saya-- dengan sangat serius dan penuh pertimbangan.

maklum juga kalau kritik saya terasa konyol. maklum, ini menurut saya pribadi. kapasistas saya kan beda dengan kritikus satra beneran


ReviewReviewPernikahan BisuApr 28, '06 6:38 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Agusmanthono
Allah Maha Besar! Ibeng, pemuda bisu, namun tidak bisu nalurinya. Tak pernah ia “diajar” mengenal perempuan. Tapi seiring masanya, dengan nalurinya ia mulai terlihaaat berubah. Tapi bagaimana mengajarkan bahwa agama melarang laki-laki dewasa mendekati perempuan yang belum resmi dinikahi? Bagaimana menunjukkan itu tercela, sedangkan ia lihat para pemuda banyak yang berperilaku begitu. Mendekati gadis-gadis dan berlaku yang dimurkai agama. Sebagai ibu, Rughayah tak ingin anaknya berbuat salah. Ia tak ingin anaknya berzina. Maka terulurlah niat untuk menikahkannya. Namun cukupkah ketulusan melenyapkan bimbang yang merajai hati? Lalu bagaimanakah ibu dan anak itu menemukan jawaban untuk sebuah pinta sederhana yang beralamat kebahagiaan?


Tulisan dia atas tertulis di halaman belakang buku kumpulan cerpen solo perdana saya “Pernikhana Bisu” yang terbit Maret 2006 oleh Gema Insani Press. Cerpen Pernikahan Bisu menceritakan tentang seorang pemuda bernama Ibeng yang dilahirkan bisu. Seperti laki-laki pada umumnya ia juga tertarik pada perempuan. Sayangnya, kebisuan Ibeng membuat Ibunya sulit mengajarkan kepadanya tentang agama sehingga ia khawatir Ibeng berbuat yang dilarang agama. Apalagi terdengar kabar Ibeng dikerjai oleh teman-teman sebayanya. Ibeng dicarikan pasangan yang bisu pula. Kemudian mereka disuruh berpacaran dan oleh teman-temannya diintipi beramai-ramai. Tentu saja hati ibu Ibeng panas. Ia mengambil keputusan untuk menikahkan Ibeng. Namun, ternyata alangkah berbelit-belitnya jalan yang harus ia lalui.

Masih banyak cerpen lain yang menarik yang mengasah jiwa dan mengayakan kalbu. Insya Allah saya akan mereview setiap cerpen di buku ini dalam postingan yang lain


ReviewReviewReviewKetika Cinta Menemukanmu. Ada Cerpenku Di sini!Apr 28, '06 6:17 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Helvy Tiana Rosa Dkk
Kumpulan Cerpen yang diterbitkan GIP ini terdiri atas 16 cerpen. Beberapa pengarang yang turut menulis buku ini selain Helvy Tiana Rosa adalah Yus R. Ismail, Gola Gong, Fahri Asiza, Habiburrahman El-Shirazi, Syamsa Hawa, Afifa Afra, Adzimattinur Siregar, Jazimah Al Muhyi dan Laura Khalida. Ada juga nama-nama baru seperti: Qorie Lawa, Najwa Fadia, Agusmanthono (Aku neh, aku.) dan Hendra Veejay. Semua cerpen dalam buku ini sebenarnya sumbangan para anggota FLP untuk mencari dana bagi penyelenggaraan Milad FLP ke 8 dan Munas I FLP, Februari 2005 lalu. Seluruh hasil penjualannya telah disumbangkan di muka untuk kegiatan Forum Lingkar Pena tersebut.

Meski sumbangan, cerpen-cerpen dalam buku ini bukan cerpen sembarangan. Unik, menyentuh, segar dan dalam menjadi tebaran yang ditemukan hingga akhir halaman. Judul buku diambil dari cerpen pertama dalam kumpulan ini, karya Helvy Tiana Rosa: Ketika Cinta Menemukanmu. Cerpen tersebut mengisahkan seorang gadis bisu belasan tahun, korban tsunami di Aceh, yang jatuh cinta pada seorang relawan. Hmmm seru :).
Cerita-cerita yang lain juga cocok untuk kalangan remaja maupun dewasa :)

Buku yang dikemas dengan hard cover ini dapat dibeli di seluruh toko buku dengan harga Rp. 34.900 saja! Jangan sampai kehabisan ya! :)]
(By Helvy TR. Tak comot saja)


ReviewReviewKetika Cinta MenemukanmuApr 28, '06 6:16 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Helvy Tiana Rosa Dkk
Kumpulan Cerpen yang diterbitkan GIP ini terdiri atas 16 cerpen. Beberapa pengarang yang turut menulis buku ini selain Helvy Tiana Rosa adalah Yus R. Ismail, Gola Gong, Fahri Asiza, Habiburrahman El-Shirazi, Syamsa Hawa, Afifa Afra, Adzimattinur Siregar, Jazimah Al Muhyi dan Laura Khalida. Ada juga nama-nama baru seperti: Qorie Lawa, Najwa Fadia, Agusmanthono (Aku neh, aku.) dan Hendra Veejay. Semua cerpen dalam buku ini sebenarnya sumbangan para anggota FLP untuk mencari dana bagi penyelenggaraan Milad FLP ke 8 dan Munas I FLP, Februari 2005 lalu. Seluruh hasil penjualannya telah disumbangkan di muka untuk kegiatan Forum Lingkar Pena tersebut.

Meski sumbangan, cerpen-cerpen dalam buku ini bukan cerpen sembarangan. Unik, menyentuh, segar dan dalam menjadi tebaran yang ditemukan hingga akhir halaman. Judul buku diambil dari cerpen pertama dalam kumpulan ini, karya Helvy Tiana Rosa: Ketika Cinta Menemukanmu. Cerpen tersebut mengisahkan seorang gadis bisu belasan tahun, korban tsunami di Aceh, yang jatuh cinta pada seorang relawan. Hmmm seru :).
Cerita-cerita yang lain juga cocok untuk kalangan remaja maupun dewasa :)

Buku yang dikemas dengan hard cover ini dapat dibeli di seluruh toko buku dengan harga Rp. 34.900 saja! Jangan sampai kehabisan ya! :)]
(By Helvy TR. Tak comot saja)


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help