Oleh: Amril Canrhas
(Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Bengkulu)


Seorang tokoh fiksi adalah fiksionalitasnya seorang penulis. Tokoh cerita dengan segala liku kehidupannya adalah tanggungjawab penulisnya. Seorang tokoh menderita sejak kecil dan sepanjang hayatnya dengan kematiannya yang amat tragis. Atau penderitaannya melhirkan kebahagiaan. Atau sebaliknya. Semua adalah rekaan pengarangnya. Namun demikian, bagaimana penulis menetukan nasib, jalan hidup tokoh akanmenentukan kualitas karya tersebut. Kalau saja Hayati dan Zainudin dalam Tenggelamnya Kapal Van Derwijck dipertemukan dalam sebuah perkawinan yang bahagia oleh pengarangnya (Hamka), persoalannya tentu menjadi lain. Pembaca tentu merasa teerhibur. Hamka tentu bukan pengarang sekelas tukang hibur (penghibur). Ia melihat sebuah persoalan di dalam adat bukan saja sebagai persoalan manusia, melainkan persoalan kemanusiaan. Karena itulah tooh-tokohnya menderita hampir sepanjang hidupnya.

Begitu juga halnya bila, Siti Nurbaya dipertemukan dalam sebuah perkwainan dengan samsul bahri. Pembaca tentu menjadi terhibur. Tetapi Marah Rusli menyengsarakan tokoh-tokohnya yang mengakibatkan pembaca mengalir air matanya sebagaimaan membaca novel Tenggelamnya Kapal van Derwijck. Pengarang besar tidak menghibur. Tetapi memperlihatkan betapa sesuatu (tradisi, adat, politik, dst) menyengsarakan manusia, betapa ia merupakan persoalan kemanusiaan.

Artinya adalah bahwa tokoh-tokoh yang ada dalam kumpulan cerpen Pernikahan Bisu adalah tanggungjawab Agusmanthono sebagai penulisnya. Tidak ada orang lain yang berhak mengubahnya, kecuali sekadar berandai. Namun demikian, bagaimana ia menampilkan tokoh dengan segala karakternya, dengan segala nasib dan penyelesaian persoalannya akan menetukan nilai karyanya.

Sepuluh cerpen yang ada dalam antologi Pernikahan Bisu setidaknya terdiri dari tiga karakteristik yang saya kira memiliki nilai yang berbeda. Pertama adalah cerpen-cerpen yang cenderung berkarakter potert kehidupan, bahkan cerpen kelompo ini terkesa sebagai beberapa potret kehidupan yuang kurang terkesan ”stressingnya”, artinya penulis ingin menonjolkan potret yang mana sebagai fokus cerita, sebagai sentral tema. Bacalah cerpen Gadung, cerpen pembukan antologi ini. Ia memotret sebuah kehidupan, kemiskinan, kelaparan, kemelaratan (kalau boleh disebut begitu) atau malang yang selalu merundung. Apakah penulis menempatkan nasib malang tokoh Indun sebagai persoalan sentralnya atau kemiskinan atau kepasrahan kepada nasib, atau tokohnya sudah ditakdirkan seperti itu, atau karena ketidakpedulian sesama, penguasa? Sangat susah dijelaskan. Kelihatan penulis tidak mengekpresikan visinya sebagai penulis. Itulah sebabnya cerpen in terkesan sebagai potret kehidupan.

Kondisi seperti ini terlihat pula pada cerpen Warisan Mbai dan Zikir Batu-batu. Cerpen Perempuan di Bawah Lampu dan Seperti Hari Karim, meskipun memperlihatkan visi tersebut, tetapi di sini ada persoalan lain lagi.

Cerpen Pernikahan Bisu dalam antologi ini terkesan lebih kuat dari cerpen-cerepen yang lain. Pada cerpen Pernikahan Bisu visi penulis terlihat secara kuat, bagaimana penulis memandang hukum adat menciptakan persoalan baru atas persoalan sebelumnya yang tidak selesai, melahirkan penderitaan baru atas penderitaan sebelumnya yang telah menyengsarakan manusia. Cerpen ini terasa kuat karena penulis menempatkan adat yang dijalankan secara kaku yang memperpanjang penderitaan manusia yang bernasib malang itu semakin malang. Penulis memperlihatkan visi. Keadaan seperti ini tidak hadir pada cerpen yang lain. Pada cerpen-cerpen lain penulis terkesan malu-malu mengekpresikan visinya. Akibatnya pembaca tidak melihat di mana pengarang berdiri, dari mana ia memandang persoalan yang dikemukakannya. Sesungguhnya, setidaknya menurut saya, di situlah nilai karyanya.

Ketiga, cerpen yang sangat terkesan sebagai dakwah, cerpen yang memperlihatkan sebagai lukisan kehidupan sebagai contoh atau tauladan kehidupan. Visi penulis terlihat jelas bahkan teramat jelas, sehingga jalan hidup tokohnya seperti dipaksakan untuk sesuai dengan idelaisme dari sebuah pemahaman yang ideal. Tidak terkesan sebagai alami atau kewajaran. Itulah sebabnya penulis begitu gampangnya ”memigrasikan” tokoh Mak dan Bapak Karim tinggal di rumah Liyan setelah Umi dan Abinya Liyan yang dermawan itu meninggal. Begitu mudah memindahkan orang tua dari ”habitatnya”, dari masyarakat desa yang mungkin) terkebelakang dalam semua segi tetapi damai ke kota yang amat bising? Kesan yang agak mirip ditemkan pula pada cerpen Yang Selalu Memberi.

Dalam sejumlah cerpen, Agusmanthono begitu memikat dalam membuka cerita, terutama cerpen yang dibuka dengan cara berfilsafat. Misalnya:
  • Adakah yang lebih mengerikan dari kehilangan masa lalu? (cerpen Perempuan di Bawah Lampu).
Lihat pula cerpen Seperti Hari Karim yang dibuka dengan:
  • Adakah insan lain di dunia ini yang hari-harinya seperti hari Karim?
Dan dalam sejumlah cerepn, Agusmanthono begitu cerdik dalam menutup cerpennya, sederhana, tapi cukup membuat pembacanya bertanya-tanya.
Lihatlah cerpen Pernikahan Bisu yang ditutup dengan kalimat:
  • Dan orang-orang masih saja berusaha melerai mereka (halaman 96).
Artinya penulis membuarkan peristiwa itu tetap berlangsung, tidak dan belum selesai. Hal yang sama terlahat pula pada cerepn Warisan Mbai:

  • ”Aku telah membunuh orang” Nurin mengusap mukanya. Dadanya tiba-tiba sesak. Di jalan ada serombongan orang memegang alat-alat tajam berjalan cepat ke arah rumahnya (hal. 115).


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help